Batik sasambo menggambarkan tiga etnis yang ada di NTB, yakni sasak untuk suku di Pulau Lombok, samawa di Sumbawa dan Mbojo etnis di Bima, banyak dimintai masyarakat

Mataram,  (Antara) – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat H M Amin menggoreskan tinta di sebuah kain batik tnun khas daerah itu, yakni Sasak, Samawa dan Mbojo atau dikenal dengan batik Sasambo.

Kain tenun tersebut disiapkan oleh perajin Sasambo Rambitan, Kabupaten Lombok Tengah, Samsir di arena Bazar dan pasar murah yang digelar di halaman Islamic Center, untuk memeriahkan HUT kemerdekaan RI ke-69 tahun 2014, di Mataram, Kamis.

Coretan wakil gubenur diselembar kain tenun tersebut kemudian dilanjutkan oleh perajin, Samsir dengan gambar khas NTB berupa lumbung dan dua atlet olahraga tradisional presean.

Menurut Samsir, batik sasambo menggambarkan tiga etnis yang ada di NTB, yakni sasak untuk suku di Pulau Lombok, samawa di Sumbawa dan Mbojo etnis di Bima, banyak dimintai masyarakat termasuk untuk kebutuhan kantor dan sekolah.

Pada tahun ajaran 2014/2015 pihaknya kewalahan menerima pesanan dari sekolah, karena seragam sekolah di sejumlah SMP dan SMA di Lombok Tengah menggunakan batik aasambo.

Batik sasambo kini banyak dipesan termasuk dari kalangan pejabat untuk digunakan sebagai seragam pada instansi termasuk di Pemkot Mataram.

Batik sasambo menjadi salah satu pilihan masyarakat, karena dari segi kualitas cukup dan warna menarik dengan harga berkisar antara Rp200 ribu per lembar hingga Rp300 ribu

Dikatakan, sasambo yang juga kini menjadi salah satu pakaian wajib pegawai negeri sipil (PNS) di Kota Mataram kini ikut dipamerkan dalam pameran produk dalam negeri regional yang di pusatkan di lapangan Umum tahun lalu.

Dia menjelaskan, batik sasambo tidak hanya laku di pasaran lokal dan nasional tapi juga di luar negeri terbukti saat pameran di Belanda dan Singapura tahun 2012, batik sasambo banyak dimintai warga setempat.

Dikatakan, untuk membuat kain sasambo harus memiliki keahlian terutama dalam memberikan campuran warna, sebab jika tidak motif kainnya akan rusak.

“Setiap lembar kain waktu penyelesaiannya tidak sama, ada yang memakan waktu seminggu bahkan ada yang dua minggu, sementara omsetnya mencapai Rp300 juta,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *